Monolog

Pantas saja di bahumu tak pernah ada tenang, ternyata aku tak pernah menang.

Pantas saja kepalamu gaduh dan riuh, ternyata aku tak menjadikanmu utuh.

Pantas saja kau tak pernah mau membaca, ternyata aku memang tak pernah tertulis.

Pantas saja kita tak pernah beriringan, ternyata aku tak membuatmu merasa bahwa kita memang diciptakan untuk menciptakan keriangan.

Pantas saja kau tak jatuh cinta, ternyata aku yang membuatmu jatuh sebelum mencinta.

Aku ini memang pendosa, aku membunuhmu berkali-kali dalam kepala. Tapi kau tahu, kau sekuat baja, dan aku memang manusia terlalu biasa.

Akhirnya kau hidup lagi, namun tak seperti sebelumnya. Entah bagaimana, kali ini bukan hanya di kepala, kau hidup dan bersemayam di dada.

Tapi aku juga tak mau melihatmu mati menangis di pusara yang kau buat sendiri. Aku juga mau hidup selamanya, melihatmu tumbuh dewasa lalu menua.

Iklan

Lelaki Tua di Pinggir Kota

Ia tak suka dipandang lama-lama, sebab ia tak suka menerka hati manusia.

Ia berteman dengan apa saja, mulai dari sepi, hingga cangkir tempat ia biasa membuat kopi.

Bagaimana ia menua, itu adalah kisah sendiri yang tak suka ia bagi.

 

Ia akrab sekali dengan bising kereta. Bukan karena ia suka, tapi istananya yang renta memaksa.

Ia juga tak suka sembarangan jatuh cinta, sebab ia memang tak suka jatuh, katanya.

 

Sering sekali, di tengah malam yang panjang ia sulit menutup mata. Kepalanya ramai, riuh dan gaduh oleh apa saja. Perihal sayur basi yang tempo hari ia masak sendiri, atau tali sandalnya yang rusak lagi.

 

Sekarang ia tak lagi di sana, kaki bajanya tak lagi ada.

Ia tak mampu lagi menunggu lama-lama.

Sudah habis masanya.

 

Lelaki tua di pinggir kota,

ia lebih suka mencintai diri sendiri,

meski diri sendiri telah mati.

 

– Bogor, 2017

Cemburu

Aku cemburu pada malam
ia memelukmu tanpa sungkan
menemanimu menyampaikan doa-doa yang tak pernah aku sampaikan

Aku cemburu pada sepatu
ia melindungimu dari kerikil dan batu-batu
menemanimu pada apa saja yang kau tuju
bukan aku

Aku mau jadi baju
melindungimu dari nafsu-nafsu
mengindahkanmu
di mata-mata itu

Aku juga mau jadi jalan
menuju kau pulang
sebab pulang,
tak pernah hilang dari ingatan

Oh,
Aku juga cemburu pada Tuhan
Ia menjagamu sepanjang kau diciptakan.

Kepada Bumi

Kepada Bumi,
Cintailah diri sendiri,
sebab diri sendiri tak pernah pergi
Cintailah hujan dan matahari,
sebab kelak di perutmu akan tumbuh cucu dan cicit lagi

Kepada Bumi,
Jatuhlah pada apa-apa yang baik,
sebab kau tak selalu baik
Jatuhlah tanpa ragu-ragu
sebab keraguan tak menghasilkan apa-apa selain keresahanmu

Kepada Bumi,
Pergilah ke tempat-tempat asing yang tak pernah kau temui
Di sana kau akan menemukanku
Bersembunyi

Kepada Bumi,
Tolong, bantu aku mencintainya
Sekali lagi.

– Jakarta, 2016

Gambar

Selusin Maaf

Maaf karena tak selalu ada. Saat kau butuh teman cerita, atau sekadar meladeni lelucon sekenanya.

Maaf karna tak selalu membuatmu bahagia, meski ingin selalu ada.

Maaf karena telah menemukanmu dua tahun lalu. Anggap saja kau sedang apes-apesnya.

Maaf karena mencintaimu dengan berlebihan, dan mengharapkanmu juga demikian.

Maaf telah memelukmu diam-diam dan dalam-dalam, karena mimpi kadang memang tak sopan.

Maaf kau jadi pusing karena pertanyaan-pertanyaanku yang tak ingin kau jawab–atau kau jawab dengan becanda.

Maaf karena memaksamu meninggalkan masa lalu dan meyakinkanmu bahwa masa depanmu ada padaku. Pada kita.

Maaf untuk waktu yang kita buang percuma, meski waktu di mana ada kita tak pernah cuma-cuma.

Maaf karena tak bisa jadi apa yang kau mau, Si Buruk ini memang tak tahu malu.

Maaf karena selalu jadi apa yang kau tak suka.

Maaf karena menjadikanmu satu-satunya.

Maaf karena tak mau kau jadikan salah satunya.
– Bogor, 2016.

Gambar

Untuk Yang Tak Pernah Ada

Untuk yang tak pernah ada, terima kasih untuk segalanya. Untuk segala bahagia tanpa rupa. Nanti, jika kau membaca tulisan ini,–entah dengan cara apa–yang kau tahu bukan hanya kau yang lelah tunggal lagi. Kau tunggal dan tak mudah tergenapi. Yang kau tahu bukan hanya kita yang tak pernah sama, tapi beda memang sekat kita.

Untuk yang tak pernah ada, terima kasih karena tak memberikan apa-apa. Sebab apa-apa memang tak sepantasnya ada. Di tanah ini, hujan adalah asing yang lain. Derasnya kadang tak mengenal musim. Membawa air ke muara hatimu yang kering.

Untuk yang tak pernah ada, tetaplah bahagia. Agar yang mencinta jatuh pada hal baik saja. Agar yang mencinta tak merasa sakit jatuhnya. Agar yang mencinta tak tahu bahwa yang tak pernah ada tak pernah membawa bahagia.

Untuk yang tak pernah ada, hiduplah selamanya. Meski hidup tak selamanya.